MENCARI RESENSI DARI NOVEL
LONDON
Judul :
London: Angel
Penulis :
Windry Ramadhina
Tebal : 330 halaman
Ning, adalah sahabat Gilang
sejak kecil. Mereka tinggal bersebelahan, jendela kamar mereka saling
berhadapan. Seiring berjalannya waktu, mereka tumbuh dewasa. Gilang yang
belajar teknik mati-matian, akhirnya memiliki takdir di bidang sastra. Dia
bekerja sebagai editor sekaligus penulis. Dia memiliki empat sahabat, yaitu
Hyde, Dee, Dum, dan Brutus. Brutus adalah teman sekamar indekosnya.
Awal cerita, mereka sedang
berada di pub. Layaknya orang dewasa, perbincangan tentang pernikahan selalu
jadi topik pembicaraan yang nggak ada habisnya. Mereka saling menanyakan
pasangan. Hyde akan menikah dalam waktu dekat. Gilang teringat Ning yang
sekarang berada di London. Ia meneruskan kuliah seni dan memutuskan untuk
bekerja di sana. Keempat sahabat Gilang menantangnya untuk menyusul Ning
ke London. Semua persiapan keberangkatan Gilang ke London disiapkan oleh
mereka, termasuk penginapan.
Pada saat penerbangan, ia
duduk berdampingan dengan seseorang yang sedang memperjuangkan cinta juga.
Gilang menjulukinya V, karena dia mirip dengan V pada film V for Vendetta. V
pergi ke London untuk menyelamatkan pernikahannya yang nyaris hancur.
Gilang tiba di London saat
musim hujan. Semangatnya yang menggebu harus ditahan karena ternyata Ning tidak
ada di indekosnya ketika Gilang tiba. Menurut tetangganya, Ning suka pergi
beberapa hari, tapi dia pasti kembali. Gilang tak hilang arah, akhirnya ia
memutuskan untuk berkeliling London. Ed, pegawai restoran Medge
merekomendasikan untuk pergi naik London Eye, salah satu ikon kota London yang
terkenal. Tiba di sana, gerimis turun. Gilang baru menyadari bahwa ia phobia
ketinggian, tetapi seorang gadis misterius memberikannya sebuah payung merah.
Gadis itu menarik Gilang untuk naik London Eye. Gilang tak bisa menolak. Ketika
mereka turun, hujan mulai reda. Gilang berniat membeli kopi untuk mereka
berdua. Namun ketika kembali, gadis itu menghilang, hanya tertinggal payungnya
saja. Gilang menjulukinya Goldilocks.
Restoran Medge membuat
Gilang betah, selain sudah mengenal pemilik dan pelayannya dengan baik, di
restoran tersebut terdapat banyak buku. Salah satu pengunjung lainnya adalah
Ayu, gadis asal Indonesia. Ayu pemburu buku-buku sastra klasik.
Suatu hari Ning kembali, dia
datang ke restoran Medge dan bertemu dengan Gilang. Keduanya merasa senang.
Ning mengajaknya pergi ke galeri. Disana ia bertemu dengan Finn, seniman patung
yang sangat dikagumi oleh Ning. Gilang menangkap tatapan Ning bukan lagi
tatapan kekaguman, tapi tatapan cinta. Gilang meninggalkan Ning untuk
melihat-lihat souvenir. Hujan turun lagi. Ia melihat Goldilocks berada di
kerumunan orang, tetapi ketika ia mengejar, gadis itu menghilang. Gilang
dikagetkan oleh kehadiran V. Ia berniat meminjam payung merah yang dipakai oleh
Gilang. V berjanji akan mengembalikan payung itu dalam waktu beberapa menit,
tapi setelah ditunggu berjam-jam dia tak kembali.
Gilang berniat mengganti
payung itu, dia pergi ke sebuah toko payung. Pemilik toko bercerita tentang
malaikat yang turun ke bumi bersama hujan. Gilang teringat pada Goldilocks.
Setelah membeli payung dengan harga selangit, V mengembalikan payung pada
Gilang, ternyata payung tersebut menjadi perantara sehingga V dan istrinya
rujuk kembali. Gilang yang awalnya pesimis takut ditolak Ning, jadi kembali
bersemangat. Masalahnya, dulu Gilang dan Ning bersahabat dengan seorang
laki-laki, dia menyukai Ning. Tapi ketika laki-laki itu menyatakan cinta, Ning
malah menjauh. Gilang takut hal itu terjadi padanya.
Ketakutan itu membuat Gilang
hilang kendali, dia mabuk. Di bar dia bertemu Mister Lowesley, rupanya Mister
Lowesley sedang dilemma juga, karena dia sudah menunggu Madam Ellis
bertahun-tahun, sampai umurnya setengah abad. Meski pun semakin bertambahnya
umur, Mister Lowesley memiliki keberanian yang lebih besar dari Gilang. Dia
mengunjungi restoran Medge keesokan harinya dan membuat keributan. Setelah
Mister Lowesley membuat suasana sangat kacau, dia meminta maaf pada Madam
Ellis. Akan tetapi, Madam Ellis tetap keras. Hatinya hanya untuk George
(suaminya yang meninggal lima tahun lalu).
Hujan turun lagi, Mister
Lowesley pergi entah kemana. Madam Ellis mulai khawatir, lalu Gilang mengantar
Madam Ellis menemui Mister Lowesley ke tempat bermainnya waktu kecil. Berkat
payung merah itu, Madam Ellis menerima cinta Mister Lowesley. Keyakinan Gilang
akan cintanya semakin kuat. Ia bertekad untuk menyatakan cintanya pada Ning.
Awalnya Ning ragu-ragu, tapi akhirnya dia menerimanya. Gilang merasa bersalah,
ia tahu Ning nggak cinta dia. Akhirnya Gilang tidak memaksakan lagi
perasaannya. Cerita tidak selesai hanya disini saja. Ada bagian terakhir
sebelum epilog yang menurutku bagus, yaitu bagian Goldilocks. Goldilocks itu
bernama Angel. Ada quotes favorit yang akhirnya menyadarkan aku kalau semua
orang berhak untuk bahagia dengan caranya masing-masing.
“Tidak ada yang terenggut.
Setiap orang punya keajaiban cintanya sendiri. Kau hanya belum menemukannya.”
Cerita berakhir dengan
bertemunya Gilang dengan Ayu. Saat itu hujan turun, dan mereka harus pergi ke
Heatrow, lalu Gilang menawarkan memakai payung merah berdua. Sejak saat itu,
Gilang merasa nyaman berada di dekat Ayu. Sebenernya banyak pelajaran yang bisa
kita ambil dari novel ini. Pertama, tentang pentingnya persahabatan. Bukan
persahabatan Ning dan Gilang, tapi persahabatan Gilang dan keempat temannya.
Mereka benar-benar teman yang peduli. Kedua, tentang kesabaran. Penantian
Mister Lowesley yang panjang pasti dibarengi dengan kesabaran. Sekeras apapun
hati orang lain, jika kita tulus mencintainya seiring berjalannya waktu,
hatinya akan luluh juga. Dan ini hanya masalah waktu. Selain kesabaran, yang
ketiga adalah kesetiaan. Kesetiaan juga banyak diajarkan oleh Mister Lowesley,
dia memang penunggu yang tangguh.
Komentar
Posting Komentar